Ketahui Oligoasthenozoospermia, Penyebab, Dan Pengobatan

Oligoasthenozoospermia adalah istilah medis yang menunjukkan keadaan jumlah dan pergerakan sperma dalam semen sangat sedikit atau di bawah standard normal. Pada keadaan normal jumlah sperma antara 20 juta hingga 200 juta per ml, atau 39 juta per ejakulasi. Sementara dalam keadaan oligoasthenozoospermia jumlah sperma yang dihasilkan kurang dari 20 juta per ml. kondisi tersebut akan memperkecil peluang terjadinya pembuahan pada sel telur, artinya peluang kehamilan sangat juga kecil.

Oligoasthenozoospermia tidak hanya berhubungan dengan jumlah sperma, namun juga pergerakan dan kondisi fisik dari sperma itu sendiri. Batas motilitas atau pergerakan sperma yang normal dapat merujuk pada kondisi Grade A dimana motilitas progresif atau sperma bergerak lurus cepat minimal 32%. Atau bisa juga dengan merujuk motilitas progresif dan non progresif (disingkat A+B) sama dengan 50%. Jika kurang dari angka tersebut bisa dipastikan hasil analisa spermanya adalah oligoasthenozoospermia.

Oligoasthenozoospermia

Penyebab Oligoasthenozoospermia

Oligoasthenozoospermia dapat disebabkan faktor internal maupun eksternal. Faktor internal termasuk faktor genetik dan kelainan kromosom sehingga untuk hal ini sangat sulit untuk menyembuhkannya bahkan hampir mustahil. Untuk faktor eksternal biasanya dikarenakan perlakuan medis, kebiasaan buruk dan pola hidup yang tidak sehat. Berikut ini beberapa faktor yang dapat menyebabkan oligoasthenozoospermia;

  1. Kelainan organ reproduksi dan saluran kemih – Organ reproduksi yang mengalami kelainan baik bentuk dan fungsinya menjadi salah satu penyebab terjadinya
  2. Hormon yang tidak stabil – Hormon jelas akan mempengaruhi produksi dan kualitas sperma yang dikeluarkan, karena kekurangan hormon androgen dapat menyebabkan sperma kurang subur.
  3. Suhu tinggi – Suhu yang tinggi di sekitar testis dan skrotum akan membuat kesuburan menurun, karena sperma tidak dapat bertahan dengan kondisi suhu yang panas.
  4. Kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol – Kandungan bahan kimia berbahaya pada rokok dan minuman keras akan menurunkan kualitas sperma bahkan merusak bentuk sperma.
  5. Terpapar logam berat dalam jangka waktu lama – Logam berat tidak hanya merusak kesehatan tubuh namun juga turut andil dalam kasus oligoasthenozoospermia.
  6. Obesitas atau kegemukan – Orang yang mengalami obesitas akan mengalami penurunan kesuburan juga karena lemak yang tertimbun dalam tubuh dan perut akan menekan organ reproduksi sehingga organ reproduksi tidak dapat berfungsi secara optimal.
  7. Pernah menjalani kemoterapi – Kemoterapi memang satu-satunya jalan bagi tim medis untuk menyembuhkan penyakit kanker, namun suntikan bahan kimia tersebut tidak hanya menghancurkan sel kanker, namun juga sel sehat dalam tubuh. Salah satunya adalah sel-sel dan organ reproduksi sehingga produksi sperma menjadi terganggu.
  8. Kekurangan nutrisi seperti vitamin dan mineral, misalnya vitamin C, selenium, zinc dan asam folat – Kekurangan salah satu dari nutrisi tersebut akan mempengaruhi kualitas sperma yang diproduksi.
  9. Faktor psikologis yang terjadi berkepanjangan atau sering seperti stres, depresi, panik dan mudah ketakutan – Kondisi mental yang tertekan dan membuat seseorang menjadi depresi akut akan membuat hormon reproduksi tidak seimbang sehingga akan mempengaruhi kualitas sperma.
  10. Menggunakan air yang tercemar limbah dan zat kimia berbahaya – Setiap orang memang membutuhkan air untuk melangsungkan kehidupannya, namun perhatikan darimana sumber air berasal dan cari tahu kandungan air yang dipakai. Jika air tercemar limbah dan zat kimia berbahaya, hal tersebut akan mempengaruhi kesuburan baik pada pria maupun pada wanita.

Makanan yang banyak mengandung bahan kimia seperti penyedap atau penguat rasa, pengembang, pelembut tekstur dan penampilan juga besar pengaruhnya terhadap kondisi oligoasthenozoospermia. Meskipun aman dikonsumsi sebagai bahan kimia tambahan dalam makanan, zat kimia tersebut akan memberikan dampak buruk jika sering dikonsumsi, apalagi jika sampai berlebihan.

[ Baca juga : Cara menjalankan pola hidup sehat ]

Salah satu zat berbahaya dari bahan kimia makanan tersebut adalah excitotoxins, dimana zat tersebut merangsang syaraf dan sel otak untuk bekerja dengan cepat. Hal tersebut akan membuat sel syaraf dan otak kelelahan bahkan kemungkinan akan mati. Sementara syaraf sangat besar peranannya dalam mengatur setiap aktivitas tubuh, produksi hormon dan fungsinya pada tubuh, termasuk hormon reproduksi.

Sel-sel syaraf yang berada di otak (disebut hipotalamus) sangat sensitif dengan keberadaan excitotoxins. Hipotalamus mengontrol hipofisis dengan cara memproduksi senyawa yang dapat merangsang atau menekan sekresi hormon. Dengan paparan oxcitotoxins maka kerja hipotalamus akan terganggu dan menyebabkan produksi hormon testosteron dan fsh terganggu juga. Kedua hormon tersebut yang bertugas mengatur produksi sperma agar tetap dalam keadaan seimbang.

Jika sistem hormonal ini terganggu maka kualitas sperma akan menurun hingga akhirnya sampai pada titik krisis. Jadi jangan pernah sepele dengan apa yang kita makan dan minum, agar tidak menyesal di kemudian hari karena bahan kimia yang sengaja atau tidak masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi kesuburan sperma.

Selain yang telah disebutkan di atas, beberapa penyebab lainnya yaitu:

  1. Masalah pada saluran pengeluaran sperma: meliputi infeksi, gangguan prostat dan vasectomy.
  2. Masalah seksual: meliputi ejakulasi dini, kegagalan ejakulasi, disfungsi ereksi, cedera syaraf tulang belakang, operasi prostat, dan kerusakan sistem syaraf.
  3. Masalah organ reproduksi: meliputi testis tidak turun, torsion testis (jalur spermatic terpelintir), spermatokel dan kista epidedimis.

Pengobatan Oligoasthenozoospermia

Sebelum menjalani pengobatan oligoasthenozoospermia, harus dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Pemeriksaan meliputi fisik dan analisa laboratorium untuk melihat jumlah sperma, pergerakan dan bentuk fisiknya apakah ada yang cacat atau tidak. Dengan mengetahui hasil uji lab tersebut maka akan lebih mudah untuk mengatasi penyakit tersebut.

Yang perlu diketahui adalah apakah masalah kualitas sperma tersebut disebabkan kelainan hormonal, infeksi pada organ kelamin atau kekurangan mikronutrisi dalam proses spermatogenesis. Riwayat hidup pasien juga tak kalah penting untuk dijadikan pertimbangan pemilihan pengobatan. Jika penyebab telah diketahui dengan pasti, akan lebih mudah mengambil tindakan pengobatan yang tepat.

Sampai saat ini belum ada terapi yang pasti untuk menyembuhkan oligoasthenozoospermia, namun dengan mengatasi penyebabnya yang paling mendekati ditambah asupan gizi yang cukup setiap hari maka kemungkinan untuk sembuh tetap ada. Mengkonsumsi obat yang mengandung hormon androgen juga dapat membantu dalam meningkatkan jumlah dan kualitas sperma. Untuk memperbesar peluang kehamilan, waktu dan frekuensi berhubungan juga perlu diperhatikan.

Meski jumlahnya hanya sedikit, tidak menutup kemungkinan penderita oligoasthenozoospermia tetap dapat melakukan pembuahan. Karena dari sekian juta sperma yang dihasilkan hanya satu yang akan membuahi sel telur. Tidak ada batasan waktu untuk melakukan terapi penyembuhan, namun biasanya dalam hitungan beberapa bulan. Selain itu penting untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis andrologi agar mendapat perawatan yang tepat.

Demikian artikel mengenai oligoasthenozoospermia, penyebabnya dan cara pengobatannya. Semoga dapat menambah wawasan dan menjadi rujukan bagi penderita untuk lebih memahami kondisi yang sedang dialaminya, agar dapat menentukan langkah tepat dalam memilih pengobatan dan mendukung proses penyembuhan. Karena masih ada harapan bagi penderita oligoasthenozoospermia untuk dapat sembuh dan memiliki keturunan.

Loading...
1 Shares
Share1
+1
Pin
Tweet